
Telkom Ciptakan Indigopreneur di Pondok Gontor
Santri Indigo adalah sebuah komunitas santri berbudaya teknologi yang merupakan kerjasama program Telkom CSR bekerjasama dengan Harian Umum Republika. Perhelatan yang akrab disebut dengan training Santri Indigo ini mengajarkan kepada para santri agar berdakwah di internet. Tujuannya adalah agar umat Islam pada umumnya dan para santri khususnya dapat menjadi penetrasi informasi di dunia tanpa batas internet.
Dalam kesempatan tersebut para santri dilatih membuat web-blog di internet, teknik menulis yang baik dan benar, wawasan teknologi informasi, dan berbagai motivasi dari para pakar. Pelatihan internet ini akan dilangsungkan selama dua hari, para pengajar dari unsur birokrat, pakar informasi, akademisi, profesional, dan praktisi informasi.
Para peserta pelatihan yang boleh mendaftar adalah santri dan ustad dari pondok pesantren di wilayah Ponorogo - Jawa Timur, minimal kelas 11, setingkat Aliah, dan akan didampingi oleh ustad dari masing-masing Pesantren. Pelatihan internet pesantren di Pondok Modern Gontor Ponorogo - Jawa Timur in direncanakan berlangsung 2 hari (23-24/2/2010). Pada hari kedua, Direktur IT & Suply, Indra Utoyo bertindak pembicara dengan tema “Internet sebagai Wahana Syiar Digital”.
“Dengan pelatihan satri indigo ini diharapkan bisa ditularkan ke komunitas pesantren lainnya,” kata Lukman Hakim OSM ISDC Regional V dalam sambutan pembukaan Pelatihan Internet Pesantren “Wahana Syiar Digital` tahap II angkatan ke 4 di Pondok Gontor, Ponorogo (23/3/2010). Di dalam Santri Indigo, lanjut Lukman, ada game, education, music, animasi yang sudah disediakan di pasarkreasi.com untuk mengembangkan kreatifitas kita,” ujarnya.
“Di situ juga ada reward untuk yang berprestasi yang disebut Indigo Fellowship dan Indigopreneur. Setahun sekali akan diberikan reward. Salah satu contoh karya "Menciptakan Puskesmas Digital" adalah salah satu kreasi yang mendapatkan reward.” lanjut Lukman. “Telkom Smart Campus Award juga diberikan bagi sekolah yang membuat blog dan dinilai sebagai blog yang memasyarakat dan menjadi wadah untuk berinteraksi di lingkungan pendidikan,” kata Lukman kembali.
Sementara itu Pemimpin Redaksi Republika, Ichwanul kirom, mengatakan, bila dulu keperluan anak sakit, membangun rumah dan sebagainya datangnya ke Kyai. “Sekarang semua urusan larinya ke internet,” ujar Ichwanul.
Internet seperti pedang bermata dua, bisa untuk hal-hal yang bagus dan hal yang buruk. “Bila internet digunakan untuk hal-hal yang negatif, kewajiban santri untuk memberikan nilai positif pada internet,” tegas Ichwanul. “Ide Santri Indigo ini datang dari Dirut Telkom Rinaldi Firmansyah yang ditangkap oleh HU Republika untuk mengembangkan dan mengenalkan internet di kalangan Pesantren. Saya berharap pelatihan 2 hari ini dapat dimanfaatkan secara optimal oleh para santri,” tegasnya.
Pimpinan Ponpes Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal menyatakan, apa yang ada di Pondok ini diusahakan untuk yang akan datang. “Karena Pondok ini sejak awal berjiwa modern, yang berwawasan ke depan,” paparnya. Ciri-ciri kemodernan adalah integrated thinking, berfikir yang akan datang, menerima iptek, Gontor tidak dikotomis dan Iptek itu Islam. Ciri-ciri kemodernan yang lain adalah sistematis terorganisi, menghargai waktu, dan berkeadilan sosial.
Dalam menghadapi dunia teknologi informasi yang dibutuhkan adalah niat dari manusianya. Santri juga diharapkan dapat melek teknologi informasi, malah santri harus mendukung dan mengawal teknologi informasi ini serta sekalgus mewaspadai penyalahgunaan teknologi tersebut. Islam juga tidak memandang mayoritas dalam kebenaran, kalah menang urusan Allah SWT yang penting usaha kita dalam memberantas kemaksiatan tersebut, ujarnya.
Ia melanjutkan, mengapa kami tidak berpolitik, karena berpolitik itu mundur, namun demikian kami mengikuti dan mempelajari, mengawal politik, tapi tidak berpolitik. Dalam menghadapi informasi yang penting manusianya. Kami ingin santri ini mendukung dan mengawal serta mewaspadai TI,” tegas Hasan Abdullah kembali.
Menyinggung masalah siaran TV yang ada saat ini, hasan Abdullah menilai, bahwa Televisi itu adalah S3; Sirik, Sadis dan Sex. Kalau 3 ini hebat maka ratingnya akan tinggi. “Menghadapi era informasi itu jangan putus asa, jangan nglokro. Harus dihadapi. Islam tidak memandang mayoritas dalam memandang kebenaran. Pesantren dan umat Islam harus berjuang, apapun hasilnya itu adalah urusan Allah SWT,” tandasnya.***Okin/Odet
Santri Indigo adalah sebuah komunitas santri berbudaya teknologi yang merupakan kerjasama program Telkom CSR bekerjasama dengan Harian Umum Republika. Perhelatan yang akrab disebut dengan training Santri Indigo ini mengajarkan kepada para santri agar berdakwah di internet. Tujuannya adalah agar umat Islam pada umumnya dan para santri khususnya dapat menjadi penetrasi informasi di dunia tanpa batas internet.
Dalam kesempatan tersebut para santri dilatih membuat web-blog di internet, teknik menulis yang baik dan benar, wawasan teknologi informasi, dan berbagai motivasi dari para pakar. Pelatihan internet ini akan dilangsungkan selama dua hari, para pengajar dari unsur birokrat, pakar informasi, akademisi, profesional, dan praktisi informasi.
Para peserta pelatihan yang boleh mendaftar adalah santri dan ustad dari pondok pesantren di wilayah Ponorogo - Jawa Timur, minimal kelas 11, setingkat Aliah, dan akan didampingi oleh ustad dari masing-masing Pesantren. Pelatihan internet pesantren di Pondok Modern Gontor Ponorogo - Jawa Timur in direncanakan berlangsung 2 hari (23-24/2/2010). Pada hari kedua, Direktur IT & Suply, Indra Utoyo bertindak pembicara dengan tema “Internet sebagai Wahana Syiar Digital”.
“Dengan pelatihan satri indigo ini diharapkan bisa ditularkan ke komunitas pesantren lainnya,” kata Lukman Hakim OSM ISDC Regional V dalam sambutan pembukaan Pelatihan Internet Pesantren “Wahana Syiar Digital` tahap II angkatan ke 4 di Pondok Gontor, Ponorogo (23/3/2010). Di dalam Santri Indigo, lanjut Lukman, ada game, education, music, animasi yang sudah disediakan di pasarkreasi.com untuk mengembangkan kreatifitas kita,” ujarnya.
“Di situ juga ada reward untuk yang berprestasi yang disebut Indigo Fellowship dan Indigopreneur. Setahun sekali akan diberikan reward. Salah satu contoh karya "Menciptakan Puskesmas Digital" adalah salah satu kreasi yang mendapatkan reward.” lanjut Lukman. “Telkom Smart Campus Award juga diberikan bagi sekolah yang membuat blog dan dinilai sebagai blog yang memasyarakat dan menjadi wadah untuk berinteraksi di lingkungan pendidikan,” kata Lukman kembali.
Sementara itu Pemimpin Redaksi Republika, Ichwanul kirom, mengatakan, bila dulu keperluan anak sakit, membangun rumah dan sebagainya datangnya ke Kyai. “Sekarang semua urusan larinya ke internet,” ujar Ichwanul.
Internet seperti pedang bermata dua, bisa untuk hal-hal yang bagus dan hal yang buruk. “Bila internet digunakan untuk hal-hal yang negatif, kewajiban santri untuk memberikan nilai positif pada internet,” tegas Ichwanul. “Ide Santri Indigo ini datang dari Dirut Telkom Rinaldi Firmansyah yang ditangkap oleh HU Republika untuk mengembangkan dan mengenalkan internet di kalangan Pesantren. Saya berharap pelatihan 2 hari ini dapat dimanfaatkan secara optimal oleh para santri,” tegasnya.
Pimpinan Ponpes Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal menyatakan, apa yang ada di Pondok ini diusahakan untuk yang akan datang. “Karena Pondok ini sejak awal berjiwa modern, yang berwawasan ke depan,” paparnya. Ciri-ciri kemodernan adalah integrated thinking, berfikir yang akan datang, menerima iptek, Gontor tidak dikotomis dan Iptek itu Islam. Ciri-ciri kemodernan yang lain adalah sistematis terorganisi, menghargai waktu, dan berkeadilan sosial.
Dalam menghadapi dunia teknologi informasi yang dibutuhkan adalah niat dari manusianya. Santri juga diharapkan dapat melek teknologi informasi, malah santri harus mendukung dan mengawal teknologi informasi ini serta sekalgus mewaspadai penyalahgunaan teknologi tersebut. Islam juga tidak memandang mayoritas dalam kebenaran, kalah menang urusan Allah SWT yang penting usaha kita dalam memberantas kemaksiatan tersebut, ujarnya.
Ia melanjutkan, mengapa kami tidak berpolitik, karena berpolitik itu mundur, namun demikian kami mengikuti dan mempelajari, mengawal politik, tapi tidak berpolitik. Dalam menghadapi informasi yang penting manusianya. Kami ingin santri ini mendukung dan mengawal serta mewaspadai TI,” tegas Hasan Abdullah kembali.
Menyinggung masalah siaran TV yang ada saat ini, hasan Abdullah menilai, bahwa Televisi itu adalah S3; Sirik, Sadis dan Sex. Kalau 3 ini hebat maka ratingnya akan tinggi. “Menghadapi era informasi itu jangan putus asa, jangan nglokro. Harus dihadapi. Islam tidak memandang mayoritas dalam memandang kebenaran. Pesantren dan umat Islam harus berjuang, apapun hasilnya itu adalah urusan Allah SWT,” tandasnya.***Okin/Odet
Santri Indigo adalah sebuah komunitas santri berbudaya teknologi yang merupakan kerjasama program Telkom CSR bekerjasama dengan Harian Umum Republika. Perhelatan yang akrab disebut dengan training Santri Indigo ini mengajarkan kepada para santri agar berdakwah di internet. Tujuannya adalah agar umat Islam pada umumnya dan para santri khususnya dapat menjadi penetrasi informasi di dunia tanpa batas internet.
Dalam kesempatan tersebut para santri dilatih membuat web-blog di internet, teknik menulis yang baik dan benar, wawasan teknologi informasi, dan berbagai motivasi dari para pakar. Pelatihan internet ini akan dilangsungkan selama dua hari, para pengajar dari unsur birokrat, pakar informasi, akademisi, profesional, dan praktisi informasi.
Para peserta pelatihan yang boleh mendaftar adalah santri dan ustad dari pondok pesantren di wilayah Ponorogo - Jawa Timur, minimal kelas 11, setingkat Aliah, dan akan didampingi oleh ustad dari masing-masing Pesantren. Pelatihan internet pesantren di Pondok Modern Gontor Ponorogo - Jawa Timur in direncanakan berlangsung 2 hari (23-24/2/2010). Pada hari kedua, Direktur IT & Suply, Indra Utoyo bertindak pembicara dengan tema “Internet sebagai Wahana Syiar Digital”.
“Dengan pelatihan satri indigo ini diharapkan bisa ditularkan ke komunitas pesantren lainnya,” kata Lukman Hakim OSM ISDC Regional V dalam sambutan pembukaan Pelatihan Internet Pesantren “Wahana Syiar Digital` tahap II angkatan ke 4 di Pondok Gontor, Ponorogo (23/3/2010). Di dalam Santri Indigo, lanjut Lukman, ada game, education, music, animasi yang sudah disediakan di pasarkreasi.com untuk mengembangkan kreatifitas kita,” ujarnya.
“Di situ juga ada reward untuk yang berprestasi yang disebut Indigo Fellowship dan Indigopreneur. Setahun sekali akan diberikan reward. Salah satu contoh karya "Menciptakan Puskesmas Digital" adalah salah satu kreasi yang mendapatkan reward.” lanjut Lukman. “Telkom Smart Campus Award juga diberikan bagi sekolah yang membuat blog dan dinilai sebagai blog yang memasyarakat dan menjadi wadah untuk berinteraksi di lingkungan pendidikan,” kata Lukman kembali.
Sementara itu Pemimpin Redaksi Republika, Ichwanul kirom, mengatakan, bila dulu keperluan anak sakit, membangun rumah dan sebagainya datangnya ke Kyai. “Sekarang semua urusan larinya ke internet,” ujar Ichwanul.
Internet seperti pedang bermata dua, bisa untuk hal-hal yang bagus dan hal yang buruk. “Bila internet digunakan untuk hal-hal yang negatif, kewajiban santri untuk memberikan nilai positif pada internet,” tegas Ichwanul. “Ide Santri Indigo ini datang dari Dirut Telkom Rinaldi Firmansyah yang ditangkap oleh HU Republika untuk mengembangkan dan mengenalkan internet di kalangan Pesantren. Saya berharap pelatihan 2 hari ini dapat dimanfaatkan secara optimal oleh para santri,” tegasnya.
Pimpinan Ponpes Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal menyatakan, apa yang ada di Pondok ini diusahakan untuk yang akan datang. “Karena Pondok ini sejak awal berjiwa modern, yang berwawasan ke depan,” paparnya. Ciri-ciri kemodernan adalah integrated thinking, berfikir yang akan datang, menerima iptek, Gontor tidak dikotomis dan Iptek itu Islam. Ciri-ciri kemodernan yang lain adalah sistematis terorganisi, menghargai waktu, dan berkeadilan sosial.
Dalam menghadapi dunia teknologi informasi yang dibutuhkan adalah niat dari manusianya. Santri juga diharapkan dapat melek teknologi informasi, malah santri harus mendukung dan mengawal teknologi informasi ini serta sekalgus mewaspadai penyalahgunaan teknologi tersebut. Islam juga tidak memandang mayoritas dalam kebenaran, kalah menang urusan Allah SWT yang penting usaha kita dalam memberantas kemaksiatan tersebut, ujarnya.
Ia melanjutkan, mengapa kami tidak berpolitik, karena berpolitik itu mundur, namun demikian kami mengikuti dan mempelajari, mengawal politik, tapi tidak berpolitik. Dalam menghadapi informasi yang penting manusianya. Kami ingin santri ini mendukung dan mengawal serta mewaspadai TI,” tegas Hasan Abdullah kembali.
Menyinggung masalah siaran TV yang ada saat ini, hasan Abdullah menilai, bahwa Televisi itu adalah S3; Sirik, Sadis dan Sex. Kalau 3 ini hebat maka ratingnya akan tinggi. “Menghadapi era informasi itu jangan putus asa, jangan nglokro. Harus dihadapi. Islam tidak memandang mayoritas dalam memandang kebenaran. Pesantren dan umat Islam harus berjuang, apapun hasilnya itu adalah urusan Allah SWT,” tandasnya.***Okin/Odet
Santri Indigo adalah sebuah komunitas santri berbudaya teknologi yang merupakan kerjasama program Telkom CSR bekerjasama dengan Harian Umum Republika. Perhelatan yang akrab disebut dengan training Santri Indigo ini mengajarkan kepada para santri agar berdakwah di internet. Tujuannya adalah agar umat Islam pada umumnya dan para santri khususnya dapat menjadi penetrasi informasi di dunia tanpa batas internet.
Dalam kesempatan tersebut para santri dilatih membuat web-blog di internet, teknik menulis yang baik dan benar, wawasan teknologi informasi, dan berbagai motivasi dari para pakar. Pelatihan internet ini akan dilangsungkan selama dua hari, para pengajar dari unsur birokrat, pakar informasi, akademisi, profesional, dan praktisi informasi.
Para peserta pelatihan yang boleh mendaftar adalah santri dan ustad dari pondok pesantren di wilayah Ponorogo - Jawa Timur, minimal kelas 11, setingkat Aliah, dan akan didampingi oleh ustad dari masing-masing Pesantren. Pelatihan internet pesantren di Pondok Modern Gontor Ponorogo - Jawa Timur in direncanakan berlangsung 2 hari (23-24/2/2010). Pada hari kedua, Direktur IT & Suply, Indra Utoyo bertindak pembicara dengan tema “Internet sebagai Wahana Syiar Digital”.
“Dengan pelatihan satri indigo ini diharapkan bisa ditularkan ke komunitas pesantren lainnya,” kata Lukman Hakim OSM ISDC Regional V dalam sambutan pembukaan Pelatihan Internet Pesantren “Wahana Syiar Digital` tahap II angkatan ke 4 di Pondok Gontor, Ponorogo (23/3/2010). Di dalam Santri Indigo, lanjut Lukman, ada game, education, music, animasi yang sudah disediakan di pasarkreasi.com untuk mengembangkan kreatifitas kita,” ujarnya.
“Di situ juga ada reward untuk yang berprestasi yang disebut Indigo Fellowship dan Indigopreneur. Setahun sekali akan diberikan reward. Salah satu contoh karya "Menciptakan Puskesmas Digital" adalah salah satu kreasi yang mendapatkan reward.” lanjut Lukman. “Telkom Smart Campus Award juga diberikan bagi sekolah yang membuat blog dan dinilai sebagai blog yang memasyarakat dan menjadi wadah untuk berinteraksi di lingkungan pendidikan,” kata Lukman kembali.
Sementara itu Pemimpin Redaksi Republika, Ichwanul kirom, mengatakan, bila dulu keperluan anak sakit, membangun rumah dan sebagainya datangnya ke Kyai. “Sekarang semua urusan larinya ke internet,” ujar Ichwanul.
Internet seperti pedang bermata dua, bisa untuk hal-hal yang bagus dan hal yang buruk. “Bila internet digunakan untuk hal-hal yang negatif, kewajiban santri untuk memberikan nilai positif pada internet,” tegas Ichwanul. “Ide Santri Indigo ini datang dari Dirut Telkom Rinaldi Firmansyah yang ditangkap oleh HU Republika untuk mengembangkan dan mengenalkan internet di kalangan Pesantren. Saya berharap pelatihan 2 hari ini dapat dimanfaatkan secara optimal oleh para santri,” tegasnya.
Pimpinan Ponpes Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal menyatakan, apa yang ada di Pondok ini diusahakan untuk yang akan datang. “Karena Pondok ini sejak awal berjiwa modern, yang berwawasan ke depan,” paparnya. Ciri-ciri kemodernan adalah integrated thinking, berfikir yang akan datang, menerima iptek, Gontor tidak dikotomis dan Iptek itu Islam. Ciri-ciri kemodernan yang lain adalah sistematis terorganisi, menghargai waktu, dan berkeadilan sosial.
Dalam menghadapi dunia teknologi informasi yang dibutuhkan adalah niat dari manusianya. Santri juga diharapkan dapat melek teknologi informasi, malah santri harus mendukung dan mengawal teknologi informasi ini serta sekalgus mewaspadai penyalahgunaan teknologi tersebut. Islam juga tidak memandang mayoritas dalam kebenaran, kalah menang urusan Allah SWT yang penting usaha kita dalam memberantas kemaksiatan tersebut, ujarnya.
Ia melanjutkan, mengapa kami tidak berpolitik, karena berpolitik itu mundur, namun demikian kami mengikuti dan mempelajari, mengawal politik, tapi tidak berpolitik. Dalam menghadapi informasi yang penting manusianya. Kami ingin santri ini mendukung dan mengawal serta mewaspadai TI,” tegas Hasan Abdullah kembali.
Menyinggung masalah siaran TV yang ada saat ini, hasan Abdullah menilai, bahwa Televisi itu adalah S3; Sirik, Sadis dan Sex. Kalau 3 ini hebat maka ratingnya akan tinggi. “Menghadapi era informasi itu jangan putus asa, jangan nglokro. Harus dihadapi. Islam tidak memandang mayoritas dalam memandang kebenaran. Pesantren dan umat Islam harus berjuang, apapun hasilnya itu adalah urusan Allah SWT,” tandasnya.***Okin/Odet







0 komentar